Beranda

KUOTA SERTIFIKASI GPAI KAB. BOYOLALI TAHUN 2011 
Oleh:  Ahmad Mursidi ( disampaikan pada Pertemuan GPAI SMP di SMPN 2 Banyudono )

Pada DIPA tahun anggaran 2011 Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali mendapat kuota sertifikasi untuk Guru Agama pada sekolah umum sejumlah 456 orang.
Kuota sebanyak 456 orang tersebut didominasi oleh GPAI pada Sekolah Dasar ( SD ), dan hanya 5 orang GPAI yang berasal dari Sekolah Menengah Pertama ( SMP ). Menurut kami hal ini dapat dimaklumi dengan pertimbangan / alasaan sebagai berikut :
1. Dengan diberlakukannya PP 41 yang mengatur tentang sertifikasi guru yang membolehkan   
    seorang Guru yang belum S.1, usia 50 tahun, masa kerja 20 tahun ( yang memenuhi  
    persyaratan ini  Ini kebanyakan berasal dari SD )
2. Perimbangan Jumlah Guru antara SD dan SMP bisa 1: 15
3. Penentuan kuota tidak berdasarkan proporsionaliotas antara SD, SMP, SMA/SMK, 
     sebagaimana yang telah dilakukakan pada saat sertifikasi dua tahun yang lalu
Demikian sekilas info yang kami sampaikan agar difahami dan dimengerti untuk kesabaran dan keikhlasannya. Disinilah kita diuji semoga dikemudian hari ada jalan yang terbaik untuk kita semua



BELAJAR MEMBENTUK KARAKTER MELALUI “ FILM SERDADU KUMBANG “
Oleh. Ahmad Mursidi

Film ini diambil dari beberapa kisah nyata ber-setting pendidikan, karakter dan cita-cita anak bangsa. Dengan disutradari oleh Ari Sihasale, film ini mengambil lokasi di daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ceritanya ada tiga anak berusia sekolah dasar, yaitu Amek, Umbe, dan Acan yang berusaha keras ingin merintis cita-cita mereka meski dengan berbagai keterbatasan yang mereka miliki.
Kisah nyatanya berangkat dari pengalaman tahun lalu yang hampir seluruh siswa-siswa Indonesia tidak lulus Ujian Nasional (UN). Berbekal dari pengalaman itu, guru-guru di sekolah tiga anak itu semakin memperketat sistem belajar dan mengajar. Setiap ada siswa yang datang terlambat ke sekolah selalu dihukum oleh Pak Alim, guru dalam kisah di film itu.  Push-up, shit-up, mengelilingi lapangan dan jenis-jenis hukuman fisik lainnya dipercaya mampu memberikan kedisplinan bagi siswa-siswa di sekolah ini. Alasannya satu: siapa yang tidak mematuhi peraturan, maka ia harus dihukum. Dengan hukuman-hukuman seperti itu, maka diharapkan tahun depan, siswa-siswa di sekolah itu bisa lulus UN 100 %.
Sementara itu, si tokoh utama, Amek, merupakan salah satu murid dari sekian banyak murid di sekolah itu yang tidak lulus UN tahun lalu. Sebenarnya Amek adalah anak yang baik, tapi sifatnya yang introvert, keras hati dan cenderung suka jahil, membuat ia sering dihukum oleh guru-gurunya di sekolah. Setiap kali ditanya cita-cita, Amek tidak mau menjawab, bahkan oleh gurunya sendiri. Ia semakin malu dengan keterbatasan bibir sumbing yang dimilikinya sehingga menjadi bahan lelucon bagi teman-temannya. Namun di balik kekurangan yang dimilikinya itu, Tuhan memberikan Amek banyak kelebihan, salah satunya ia mahir berkuda.
Amek tidak sendirian, ia hidup di sebuah desa bernama Mantar yang terletak dipuncak bukit, jauh dari perkotaan bersama anggota keluarga yang lengkap. Ibunya bernama Siti dan ayahnya bernama Zakaria yang sudah tiga tahun tidak pulang-pulang apalagi mengirimi uang dari hasil perantauannya. Semua anggota keluarga menginginkan Amek menjadi orang yang baik dan punya cita-cita. Lebih-lebih kakaknya, Minun, yang sangat menyayangi Amek. Minun yang kini duduk di bangku SMP dan sering menjuarai lomba matematika sekabupaten itu menginginkan Amek bisa tumbuh besar dan mandiri. Tak henti-hentinya Minum terus memacu Amek agar bisa lulus UN di tahun berikutnya. Minun kemudian menjelma menjadi malaikat tersendiri bagi Amek ketika kuda kesayangan Amek kembali dari tangan Ruslan karena kecerobohan ayah Amek. Minun adalah kakak terbaik yang pernah dimiliki Amek. Sederet piala dan sertifikat berjejer di ruang tamu rumah mereka. Namun sayang, Minun yang juga menjadi ikon sekolah, malaikat bagi Amek, kebanggaan keluarga dan masyarakat di kampung itu harus meninggalkan Amek selama-lamanya.
Beberapa hal yang bisa saya petik dari film ini adalah. Pertama, ia mengenalkan daerah lain di Indonesia yang kini belum terjamah, yaitu Sumbawa. Tak kalah dengan film Laskar Pelangi yang mengenalkan indahnya pulau Belitong, dalam film Serdadu Kumbag ini, penonton akan dikenalkan oleh keindahan bumi Sumbawa yang merupakan penghasil susu kuda liar.
Kedua, jika dilihat memakai kacamata educational psychology, maka kita akan menemukan adanya pendidikan karakter yang ditanamkan oleh tokoh-tokoh pembantu dalam film itu. Seperti halnya, kejujuran, empati, dan tidak mengumbar kesombongan, karakter-karakter semacam itu akan kita temukan di film ini. 
Ketiga, bagi saya, film ini mampu menyuguhkan potret sistem pendidikan Indonesia yang kini memang harus masih dibenahi. Penegakan kedisiplinan tidak harus dengan memberikan hukuman fisik pada siswa-siswa peserta didik. Tapi bagaimanakah memacu mereka untuk bisa belajar lebih serius dan mengasyikkan agar mereka bisa lulus UN tahun depan. Selain, setiap guru pun juga harus memahami perkembangan psikologis di setiap anak didiknya.
Meski ada sedikit miss dalam film yang juga diproduseri oleh Ari Sihasale ini—seperti  tokoh Minun, yang harusnya bisa dieksplor lebih dalam—namun bagi saya, film Serdadu Kumbang ini bisa menjadi alternatif referensi untuk menanamkan value-value pada anak-anak bangsa dan orang tua di tanah air ini bahwa: yang namanya semangat belajar untuk meraih cita-cita, itu harus tetap digaungkan dan terus ada. Meski dalam keadaan apapun, meski dalam keterbatasan apapun.

3 komentar:

  1. Okey trimakasih infonya semoga MGMP tetap istiqamah memperjuangkan nasib anggotanya

    BalasHapus
  2. kisi-kisi pai 2013 e ada pak?

    BalasHapus
  3. assalamu'alaykum wr wb, salam kenal ust. dari kami yang ikut bintek kurikulum 2013 di boyolali

    BalasHapus